RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

Pengertian Rencana Anggaran Biaya
Rencana Anggaran Biaya adalah suatu perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk membangun bangunan konstruksi, yang didalamnya meliputi bahan dan upah,serta biaya- biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi atau proyek.

Anggaran biaya merupakan harga dari bahan bangunan yang dihitung dengan teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya pada bangunan konstruksi beragam bentuknya. Secara umum RAB memuat:


1. Uraian pekerjaan (no. 2)
Uraian pekerjaan yang dimaksud adalah list atau daftar pekerjaan yang hasrus dilaksanakan pada proyek konstruksi tertentu. RAB yang memenuhi standar adalah yang mencakup seluruh item pekerjaan disuatu proyek tertentu.

2. Kode Analisa (no. 3)
Kode Analisa yang dimaksud adalah kode yang telah ditentukan, seperti SNI dan BOW. Ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa analisa yang dilakukan ini memenuhi stardar yang ada. Analisa ini berkaitan dengan peentuan harga satuan yang tertera di RAB.

3· Satuan (no. 4)
Satuan ini dimaksudkan untuk menentukan ukuran yang akan digunakan nantinya. Satuan yang digunakan seperti M’, M2, M3, BH, Ls, Titik dll. Tergantung jenis pekerjaan dan hitungan Volume yang digunakan.

4· Volume masing-masing pekerjaan (no. 5)
Jumlah pekerjaan merupakan Volume yang harus dikerjakan dan yang akan dibayarkan oleh pihak Ouner.

5· Harga satuan (no. 6)
Harga yang tercantum adalah harga hasil analisa atau sering disebut dengan Analisa Harga Satuan Harga (AHSP) dalam hal ini SNI (AHSP)

6· Jumalah harga (no. 8)
Jumlah harga ini didapat dari hasil perkalian antara Volume dengan harga satuan.

Kurang Lebih Seperti GAmbar dibawah ini:



Dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya ini harus dilakukan dengan teliti, dalam menyusun RAB ada beberapa data yang sebagai acuan seperti:


1. Gambar Rencana Bangunan Konstruksi

2. Spesifikasi Teknis Pekerjaan biasa di sebut sebagai RKS (Rencana Kerja dan Syarat-Syarat)

3. Volume masing-masing pekerjaan yang aka dikerjaan

4. Daftar harga material, upah dan Alat yang akan digunakan

5. Analisa BOW atau SNI

6. Metode Pelaksanaan


Dalam menyusun Anggaran Biaya dapat dilakukan dengan 2 cara berikut :
1.Angka Biaya Kasar
Sebagai Pedoman dalam menyusun anggaran biaya kasar digunakan harga satuan tiap meter persegi (mk2) luas lantai. Anggaran kasar dipakai sebagai pedoman terhadap anggaran biaya yang dihitung secara teliti. Perkiraan biaya karar ini digunakan untuk acuan. Bahwa nantinya harga yang digunakan dengan jumlah tertentu masih tahap wajar atau tidak.

Walaupun namanya anggaran biaya kasar, namun harga satuan tiap m2 luas lantai tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti.

Dibawah ini diberikan sekedar contoh, untuk dapat menggambarkan penyusunan anggaran biaya kasar yaitu :

Bangunan Induk 10 X 8 = 80 m2 dikalikan harga satuan yaitu Rp Rp 150.000 = Rp 12.000.000 

Jadi dapat disimpulkan adalah harga perm2 bangunan induk tsb adalah Rp 12.000.000 perm2 nya
2 .Angka Biaya Teliti

Yang dimaksud anggaran biaya teliti adalah Anggaran Biaya Bangunan atau proyek yang dihitung dengan teliti dan cermat sesuai dengan ketentuan dan syarat- syarat penyusunan anggaran biaya dengan metode analisa harga yang sesuai stardar dan acuan yang telah ditentukan. Pada anggaran biaya kasar sebagaimana diuraiakan terdahulu, harga satuan dihitung berdasarkan harga taksiran setiap luas lantai m2. Taksiran tsb haruslah berdasarkan harga yang wajar dan tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti.

Sebagai contoh kurang dan lebihnya seperti gambar di bawah ini:

Analisa Harga Satuan Harga

Sedangkan penyusunan anggaran biaya yang dihitung secara teliti,didasarkan atau didukung oleh :

a. Besteks
Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat- syarat teknis

b. Gambar bestek
Gunanya untuk menetukan/menghitung besarnya masing- masing volume pekerjaan

c. Harga Satuan pekerjaan
Didapat dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkanperhitungan analisa BOW

BOW Singkatan dari Bugerlijke Openbare Werken ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditentukan oleh Dir BOW tanggal 28 Februari 1921 Nomor 5372 A Pada zaman pemerintahan Belanda. Di Zaman sekarang BOW diganti dengan HSPK, yang tentunya tiap kota maupun kabupaten mengeluarkan HSPK dan setiap tahun ada pergantian.

Tahapan Perhitungan Rencana Anggaran BIaya Konstruksi

Penyusunan anggaran biaya suatu rancangan bangunan biasanya dilakukan 2 (dua) tahapan yaitu :

Estimasi Biaya Kasar, yaitu penaksiran biaya secara global dan menyeluruh yang dilakukan sebelum rancangan bangunan dibuat.

Perhitungan Anggaran Biaya, yaitu penghitungan biaya secara detail dan terinci dsesuai dengan perencanaan yang ada.

Tahapan Estimasi Biaya

Penaksiran anggaran biaya yang dilakukan adalah melakukan proses perhitungan volume bangunan yang akan dibuat, harga satuan standar dari tipe bangunan dan kualitas finishing bangunan yang akan dikerjakan.

Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya rancangan bangunan, maka jumlah biaya yang diperoleh adalah taksiran kasar biaya bukan biaya sebenarnya atau actual, sebagai contoh:

Jenis bangunan dengan standar bangunan kelas A, maka harga satuan standarnya adalah @ Rp 1.500.000,-/m2, Luas bangunan 100 m2, maka asumsi biaya yang dibuat adalah : luas bangunan dikalikan dengan harga satuan standar, yaitu: 100 x @Rp 1.500.000,-/m2 = Rp 150.000.000,-

Cara penghitungan setiap item pekerjaan tersebut di atas biasanya dibuat berdasarkan jenis material dan komponen pekerjaan, misal:

1. Komponen beton, cara penghitungannya dilakukan dengan membuat perhitungan volume secara satuan isi (m3), dikalikan dengan harga satuan per m3 yang disusun berdasarkan analisa penggunaan material per m3 @ Rp m3)

2. Komponen material lantai, dinding dan plafond dilakukan dengan menghitung luasan area yang ada (m2) dikalikan dengan harga satuan per m2 yang disusun berdasarkan analisa penggunaan bahan per m2 ( @ Rp/m2)

3. Komponen material pekerjaan finishing seperti tali air, talang air, jaringan pipa dan pengkabelan dilakukan dengan menghitung panjang bahan yang dipakai (m1) dikalikan dengan harga satuan material perm1 (@ Rp/m1)

4. Komponen material besar seperti daun pintu, jendela dan peralatan dilakukan dengan menghitung jumlah material yang dipakai (unit) dikalikan dengan harga satuan material per-unitnya (@ Rp/unit), bisa juga dengan perhitungan volume secara detail, yaitu : kusen (m3), daun pintu (m2), kaca (m2), daun jendela (m2), perlengkapan lainnya (bh). termasuk finishing.

5. Komponen material yang sulit dihitung tetapi harus dikerjaan dilakukan dengan menentukan status lumpsum (ls), artinya untuk pekerjaan itu nilai besaran ditentukan berdasarkan cakupan pekerjaan harus dikerjakan sesuai dengan yang dikekendaki oleh perancang, biasanya komponen ini tidak ada harga satuannya tetapi langsung menyebutkan nilai total dari komponen pekerjaan tersebut.

6. Usahakanlah untuk menghitung secara detail karena akan lebih akurat dan cenderung hemat.



Previous
Next Post